Blogger news

11.01.2012

KISAH KATAK DAN HUJAN

Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika
langit tiba-tiba gelap.
"Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap
anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.

Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda
kebinasaan kita.
Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai.
Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin
bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai
berterbangan.
Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu
pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi?
Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil
bersembunyi di balik tubuh induknya.


"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh
keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!"
tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai
tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak
menakutkan.

"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih
pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak
katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan
sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. "Buuu, aku
sangat takut. Takut sekali!"
ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir.
Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang!
Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu.
Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang
induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba
mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-
liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan.
Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan
datang! Horeeee!"

RENUNGAN :

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan.
Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak
diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan
wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan
keadaan.
Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam,
angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan.
Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah,
jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan
yang ditunggu, pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan.

SUMBER: www.google.com

0 komentar:

Post a Comment